Microblog Posts

See at my Pico website here

30 Agustus 2025 22:10

Gue sadar gue bilang kayak gini ada egonya, pake banget.

Melihat Tiktok menangguhkan fitur live, Facebook yang malah ngepush algo buat nampilin reel gaslight kalo keadaan oke-oke aja, Twitter yang masih bisa diandalkan cuma wallahu’alam kita gak tahu kapan bakalan kena, sekali lagi gue mengingatkan bahwa Mastodon (dan fediverse) dan Bluesky ada untuk saat-saat yang genting seperti ini. Mereka kurang dijamah sama central power dan pemerintah.

Tapi gue juga sadar akan banyak hal. Karena mereka juga gak mengedepankan algo, fediverse gak ada algo dan Bluesky pun walau ada juga bukan se-blackbox tinggal-pakai kayak media sosial korpo, jadi bagi sebagian orang juga bakalan “kaget” saat pakai karena semua orang udah kebiasa sama media sosial korpo, tentu saja.

Oke, gue sela buat cara kerjanya aja dulu, deh. Di Mastodon dan Bluesky masih bisa buat update layaknya microblog seperti Twitter yang masih digunakan sebagai tempat paling ramai buat berbagai informasi selama demo sekarang. Mastodon dan Bluesky justru mengedepankan pakai hashtag biar gampang dicari juga, kok. Jadi gak perlu nunggu algo god ngasih jalan. Mungkin minusnya ya Mastodon di versi 4.5 alpha ini masih belum bisa quote post, sih. Software selain itu kayak Misskey dan Pleroma bisa, cuma ya bakalan bikin orang awam kaget lagi, sih, buat mempelajari software yang berbeda.

Kedua, live stream. Fediverse dan ActivityPub gak bisa tak saranin. Bakalan ribet, bahkan buat yang udah berpengalaman sekalipun. Dan dana yang dibutuhkan gak sedikit. Buat Bluesky, kemarin ada lexicon yang namanya Streamplace, udah ada yang live stream di sana dan juga ada aplikasinya di Android dan iOS. Cuma ya, tetep aja orang harus membiasakan diri buat pakai aplikasinya, belum bikin akunnya ATproto dulu, butuh waktu buat adaptasi. Susah.

Ya, gue akui Tiktok emang gampang buat live stream dan gampang buat dicari kontennya. YouTube, Facebook dan Instagram juga bisa live stream, tapi cara mereka mencarikan konten ke pengguna gak se-sat-set Tiktok. Tapi ya balik lagi, mereka ada central power. Mau semau mereka apakan platformnya, kalian gak bisa nolak, seperti penangguhan fitur live stream sekarang.

Sekali lagi, gue merasa apa yang gue tulis ini benar-benar egois. Gue mohon maaf yang sebesar-besarnya.

30 Agustus 2025 00:06

Gue tau ini bukan airport bullshittery, tapi gue rencana buat switch off dulu besok seharian atau at least sampe males abis tutup warung. All these things makes me unable to finishing my thesis at all. Bukan ngelés, tapi suwer gue tipe orang yang bakalan susah fokus kecuali beneran dipaksa locked in. Jadi nyambi buka feed bukan jalan yang bagus apalagi pas sekarang ini. I know, I will miss more things. Gue bahkan gak bakal ngecek feed RSS gue. I just want to do my work, that’s all. Chat masih bisa, surel bakal dibales, santai. See you on Sunday.

28 Agustus 2025 16:27

Kirain orang normal, taunya sedeng bener anjir. Tongkrongannya juga gak kalah kacaunya. Beneran gue sendiri gak tahu, atau lebih gak peduli karena mungkin ya sama-sama punya minat yang sama ke Bandori beberapa bulan kemaren dan gue sendiri sering bikin terjemahan komik penggemar yang gue sengaja bagiin ke salah satu grup tertentu, yang kebetulan sarang orang sedeng juga. Just, what the fuck. Kemaren ada satu yang terlalu bersemangat buat ngedox orang cuma karena nulis artikel yang emang berdasarkan sama fakta soal Prabowo dengan skena pacuan kuda di Indonesia (gue gak dukung Prabowo, but there’s a fact about it). Eh, ada temennya yang ngeadd gue mau nyepuin dia ke gue soalnya gue dicancel di Twitter (katanya sih, toh gak ada efek apa-apa), taunya bercandaannya homo semua mana gak pake consent asal ngetag postingan dia yang gak bermutu blas (gak cuma gue, tapi ada temen yang kena). Terus ini ada satu lagi yang skizo bener ngimpi Cygames kalo diakuisisi sama Sarga gimana. Halu boleh, tapi yang lu pikir itu kagak masuk akal sama sekali. Make semua ini orang gila.

27 Agustus 2025 13:33

It’s funny to think that if we look back in time, computer access in the early days of the history is somewhat a privilege to some people, cost barrier. And yet despite we have been digitalized most part of our life, in some developed country like ours, computer access is still somewhat a privilege at some level, knowledge and power barrier. We may have using it, we got our smartphones that basically a small computer. But do we understand what its doing at the first place? But do we have the freedom on using it?

27 Agustus 2025 12:05

Once again, kalo emang pemerintah Indonesia udah mau menahan kita di jejaring sosial korpo dalam menyebarkan informasi yang mereka anggap provokatif, kita udah ada fediverse yang gak ada campur tangan pemerintah karena sifat terdesentralisasinya dan masih bisa terhubung satu sama lain karena sifat terfederasinya. Atau ada ATmosphere dengan salah satunya Bluesky yang seenggaknya lebih mudah dipelajari kalau habis dari Twitter.

Ingat, kita tetap bisa menyebarkan dan menerima informasi tanpa harus bergantung yang namanya algoritma atau For You bullshittery. Gak ada yang namanya downrank postingan karena masukin tautan atau berpotensi melanggar aturan. Menggunakan tagar dianjurkan agar orang lain juga tahu. Repost postingan orang agar membantu reach-nya naik. Karena prinsipnya dari kita, oleh kita, untuk kita. Jangan manja bergantung sama central power.

Ubah pola pikir demi kehidupan bersosial di dunia maya yang lebih baik.

26 Agustus 2025 16:41

Lelah secara mental memang sungguh berat untuk dihadapi. Ketika kamu sadar bahwa kamu harus melakukan sesuatu yang lebih penting tetapi justru badan atau pikiranmu menolak karena merasa lelah, susah buat menjalaninya. Entah apa yang harus aku lakukan agar bisa menjalani hariku yang selalu saja ada halangan ini.

19 Agustus 2025 01:08

Semenjak earphone rusak, aku jadi ASMR-deprived. Like, kerjaan gue di malam hari butuh banget dengerin ASMR biar lebih rileks. Dan sekarang seller dari earphone yang mau gue beli belum juga ngirim barangnya. Sialan.

18 Agustus 2025 10:20

Beberapa hari kemarin, gue rencananya emang mau nulis soal hobi, sih. Cuma karena aslinya udah kelamaan dan gue sendiri lupa referensi aslinya, gue batalin. Eh, hari ini nemu lagi referensi yang lumayan mantap.

https://www.facebook.com/share/p/1J5UFuvPSx/

14 Agustus 2025 18:32

I used to hate politics of any kind and form. But nowadays it seems that most of talks I do online at least involving politics at some degree. Whether it’s about technology, environment, economics, social, education, etc. Without we know it, politics is also important to our life. It’s not like I say we should getting into it, but at least we have an understanding for whatever happening in our life under the highs and downs of opinions. Probably I was just hate it because how it presented to me on social networks, and I was too young at the time. But me, in my mid-20s, I can’t just ignore for whatever wrong with me, my life, and other people’s too. Not to mention Indonesia’s current condition is sucks, I can’t just ignore it.

11 Agustus 2025 23:27

Haduh, kacau lagi rencana dari awal. Yang direncakan dari Jum’at kemarin malah. Ujungnya kayak meme-nya Gold Ship goleran di trek, “besok aja”.

Aku salah dimana? Tanyaku. Mungkin sedari awal memang aku salah. Aku memang tipe orang yang masih sering menunda-nunda hal yang perlu aku kerjakan. Tetapi kalau aku memang suka sama hal yang aku kerjakan, kelar cepet, yakin.

Sebenarnya menunda-nunda pekerjaan bisa diakali sih. Aku tahu beberapa trik yang bisa menanggulanginya. Tetapi yang terjadi sekarang cukup rumit.

Aku perlu melakukan hal A, yang tenggatnya masih dalam sepekan, secara teknis lebih penting tapi gak keburu. Aku perlu melakukan hal B yang lebih mudah dan kebetulan sampingan, tenggatnya juga besok. Secara logika, harusnya aku bisa mengerjakan yang B dahulu baru A, mau lebih penting mana. Kenyataannya aku kadang menunda B sampe entah kapan, dan A jadi kepepet dan keteteran.

Aslinya hal-hal seperti ini bisa berbeda bahkan lebih rumit yang aku kira. Intinya apa? Bener, kacau.

Dan aku memilih menulis ini agar bisa meluapkan isi hati daripada terlupa esok hari atau justru memaksakan diri semalam suntuk demi hal yang bisa dikerjakan siangnya hari.

4 Agustus 2025 08:46

Kunci membebaskan diri dari kekangan kebijakan pemerintah yang tolol emang self-reliance, termasuk dalam bidang teknologi dan internet.

Makanya kalo misal ada kemungkinan major SNS kayak Facebook, Twitter, Instagram dan Tiktok patuh sama pemerintah buat menyensor konten atau membatasi hal yang kita lakukan di sana, kita udah ada alternatif dengan bergabung di fediverse yang diprakarsai oleh protokol ActivityPub.

Buat daily gue di misskey(dot)id punyanya Pak @/Sandy Corzeta. Buat deep yap dumping gue bikin situs WordPress yang hostingnya di Serv00. Foto-foto kayak di Instagram bisa pakai Pixelfed, yang gue pake dari tchncs(dot)de. Tapi yang bikin keren itu ya ketiganya bisa follow dan sharing satu sama lain walau posnya kelihatan “berbeda”, thanks to ActivityPub protocol.

Fediverse itu tidak dimiliki oleh siapapun karena terdesentralisasi tapi bisa terhubung oleh siapa saja di mana saja karena terfederasi. Gak ada yang namanya kekuatan terpusat yang bisa mengendalikan semua pengguna kayak di major SNS platform.

Gue gak menggadangkan buat self-host sekalian, kagak. Bisa bikinnya barengan dalam satu komunitas, atau join di instance yang udah ada.

Secara teori ya pemerintah lebih sulit buat mengontrol akun dan instance yang ada di fedi karena yang punya kontrol bukan satu orang atau lembaga doang. Dengan protokol ActivityPub yang lebih terbuka, cara buat ngakalin biar bisa akses juga lebih beragam daripada sekadar pake VPN doang and call it a day.

Yang ingin tau sekilas soal fediverse, bisa dicek di https://jointhefediverse.net/?lang=id. Terjemahan bahasa Indonesia oleh saya.

2 Agustus 2025 17:49

A little bit of context soal pos sebelumnya, yang bundel 13 game gratis dari GOG. Yes, emang ada game bokepnya no cap.

Visa dan Mastercard gak bisa dipake sebagai payment gate di Steam dan itch(dot)io oleh sebuah organisasi nonprofit Collective Shout dengan alasan terlalu banyak game bermuatan dewasa/pornografi di sana sehingga demi mencegahnya, organisasi ini meminta ke kedua payment gate tersebut buat gak bisa dipake lagi di Steam dan itch(dot)io.

Harusnya dari sini udah jelas apa yang salah dari hal ini. Yang kena ya semua pengguna yang mau beli game yang bukan pornografi sekalipun juga gak bisa pake Visa dan Mastercard apalagi kebanyakan di luar sama terutama AS ya mereka mostly pake kartu kredit yang pake Visa, Mastercard atau Amex. Makanya pada gak suka sama cara main yang kayak gini, apalagi itungannya Collective Shout pihak di luar proses transaksi yang terjadi.

Sure, di Indonesia emang enak. Buat penyedia layanan lokal kebanyakan udah nerima digital wallet dan QRIS. Kemaren DLsite udah bisa QRIS walau gak langsung. Google dan Apple udah bisa Gopay sama DANA. Steam bisa pake DANA sama Linkaja. Tapi emang sih banyak layanan luar yang gak ada alternatif lokalnya kayak itch(dot)io yang pake PayPal dan Stripe, yang ujungnya juga pake kartu kredit atau debit pake Visa dan Mastercard, ‘kan.

Tetapi intinya adalah gapapa censorship, asal jangan sama rata dan akhirnya gak bisa pake. Kalo masalah akses konten dewasa mah peran orang tua juga harus lebih kuat, gak cuma bersandar dengan aturan dari lembaga baik pemerintah atau swasta dengan membatasi akses sepenuhnya atau dengan syarat tapi mengancam privasi kayak yang dilakukan di Inggris dengan Online Safety Act baru-baru ini.

This could be better, I guess.

Referensi:
1. https://soatok.blog/2025/07/24/against-the-censorship-of-adult-content-by-payment-processors/

2 Agustus 2025 11:20

Imho hal yang gak dijamah dalam topik ini itu ada satu: anak sekecil itu dikasih akses media soaial.

Udah ada kabar kalo itu anak udah gak kuat liat orang yang ngasih komentar ke dia yang jelas negatif. Efek samping dari media sosial yang all-public kayak sekarang itu ya orang yang mampir gak difilter, semua orang bisa liat dan ngomong, dan di sini juga kayak membebaskan siapapun buat ngasih argumen sesuai apa yang dia tau aja, termasuk Ryu, yang gue anggep dia juga salah di sini.

Tapi terlepas dari hal itu, ya yang bikin masalah ini terjadi kayaknya bapaknya sih yang serta merta bolehin buat langsung bikin konten ke publik. Minimal kalangan yang deket, temen, atau gimana. Bukan sok kuat apa gimana, tapi kalo Ryu bisa menghadapi orang yang deket dahulu, atau siapapun minimal tatap muka, sama orang di dumay at least bisa lebih siap. It’s just an advice.

Kedua, harusnya seumur gitu ya jangan dikasih akses ke media sosial, apalagi Tiktok yang jelas bukan media sosial as it was by definition. Joke (kinda) aside, Tiktok is different.

Gue dari muda juga udah nyentuh jejaring sosial, 2011 pake Twitter pas masih bisa pake background di profil, 2013 pake Facebook kecanduan War Commander. Tapi yang gue lakuin pas itu ya nyari temen dan sharing. Bukan nyari panggung dan melihat bagaimana audiens memberikan tanggapan. It’s totally different. Belum lagi Tiktok itu all-public dan visual mandatory, I mean, you know lah…

In short, ya, harusnya dia kalo mau pake modal bapak buat usaha, gak masalah. Mau punya mindset yang kayak gitu… mungkin perlu diperbaiki aja. Yang terakhir ya jangan langsung nyemplung media sosial apalagi ngisi siniar. Dan kalo bikin konten dalihnya buat nyari modal duit sendiri buat usahanya, no. Please jangan ketergantungan sama bikin konten kalo pengen ada duit masuk. I’m going full boomer mode with this one, get a real job first. Bikin konten oke aja, tapi kalo ngejar duit juga dan ambil jalan risiko, ya wassalam duluan kamu. Be real. Mending minta bapak sekalian, tapi manage duitnya juga kudu bener, it’s more acceptable.

1 Agustus 2025 00:53

Gue berada di posisi yang gak enak.

Di satu sisi sebenarnya gue udah malas dengan yang namanya media sosial korpo dengan semakin banyak sampah di sana-sini, tapi di satu sisi gue butuh itu karena temen gue pada di sana dan untuk kerjaan gue juga perlu bantuan media sosial kayak gini.

Narasinya emang bagus, berhenti pakai media sosial korpo dan beralih ke fediverse dan sejenisnya. Tapi kenyaatannya itu gak semudah itu. Dari sisi gue sendiri ya temen pada gak mau ngikut, jadi ya kalo dibilang menggantikan juga gak bisa. Dari sisi temen ya mereka gak merasakan apa yang mereka sudah ekspektasikan seperti di media sosial korpo kayak biasanya. Dan dari korpo yang jalanin pun juga tetep biarin sampah di mana-mana, yang penting cuan.

Pusing, pusing.

30 Juli 2025 01:25

Soal timpa teks dikira beneran, yaaaa gimana ya.

I like timpa teks kerapihan, that’s what I do, even though it wasn’t great all the time. Of course it brings more fun if it looks like the real thing. Tapi yang jadi masalah utama di sini adalah persepsi orang lain atas timpa teks yang dilakukan.

I’m not an effing holier-than-thou people or what, tapi gue kan jarang banget posting timpa teks di grup, dan itu karena beberapa hal.

Pansos engagement pake lelucon itu aslinya susah, soalnya hal yang lucu itu subyektif, apalagi kalo berkaitan sama inside joke, whether di lingkup sirkel atau fandom.

Walau pos gue publik, gue tetep stay pos di wall gue sendiri karena gue approve siapa yang bisa liat pos gue yang gue rasa bisa paham gue bahas apaan, at least gak “memaksa” orang lain yang aslinya di luar lingkup gue buat paham sama yang gue bahas.

Spoiler alert buat artikel mendatang: TikTok doesn’t have groups because it’s not a fucking social media. Sure, you got like, follow, share, and shit, but you ain’t got exclusivity, isn’t? Everything is public and driven by some algo gods inside their server, hoping it reach broader audiences through engagement.

And guess what? Karena gak ada yang namanya grup yang at least memberikan sinyal bahwa pos timpa teks berada di grup yang emang nimpa teks, dan didorong algo yang merekomendasikan pos ke fyp orang di luar kelompok yang paham konteks, percaya deh tuh.

Belum lagi kalo orangnya gak bisa mengenali what is a good and bad design. Makin berabe itu.

Sure, bersosialisasi itu emang kalo bisa ya ngerangkul semua orang, tetapi bukan berarti semua orang harus “dirangkul” untuk semua hal.

Of all corpo conventional SNS platforms, TikTok is the worst for me, I think. Facebook is still packed with different levels of post privacy. Friends, lists, groups, public posts, ONLY ME EVEN. Tapi karena TikTok udah terlanjur ngejar jadi gede dan mendominasi, persepsi kita sama media sosial berubah.

Alasan gue gak bisa mainly di TikTok ya karena gue gak bisa ngetik panjang kek gini dan tanpa gambar lagi wkwkwkwkwk.

29 Juli 2025 22:25

Gue gak mau yap panjang kali lebar karena gue juga gak into Uma (yet) jadi gak mau keliatan karbit. Tapi gue cuma mau bilang hormati keputusan orang lain. Tapi karena kita manusia pasti berbuat salah, ya mau gimana lagi. Tapi minimal jangan dengan bangga terang-terangan juga sih ya. Puter otak dikit lah. Dan minimal kalo nggambar jangan yang lagi trending doang mulu, keliatan FOMO. Minimal punya imej sendiri kek demen siapa gitu.

Icl gue masih bisa dapet bokep uma walau seuprit, tapi ya emang sengaja diblawurin tempatnya dimana dengan gak ngasih tagar di pixiv atau apalah, paywalled di patreon juga bisa. Gak cuma taruh di profil twitter sendiri and call it a day padahal tau sendiri situ udah femes.

Dan gue masih sadar kalo gue ngerasa gak bisa bokepin sesuatu either personally atau karena outside factor. Istg gue gak bisa enjoy bokep het bandori sampe sekarang, not personally gonnable (is that a fucking word?). Malah sempet puasa ngocok pas mujica tayang, asli, saking deep dive ke karakternya.

Anying beneran yap panjang kali lebar

28 Juli 2025 13:29

Oke, gamblang aja deh biar pikiran gue gak meledak kalo dipendem. Fedi only karena gue tau batas diri gue.

Kalo gak suka, jangan jadi SJW. Katanya gak suka SJW karena kelakuannya, ‘kan? Kok kalian juga malah jadi kayak SJW?

Kalo ada hal yang gak disukai, ya diabaikan dan ngikutin sekadarnya aja. Mau misahin seni dengan senimannya juga gak masalah, itu hakmu juga sebenarnya.

Kalo gak kuat, mending gak usah ngikut sekalian. Hobi dan minat yang lain masih banyak, kok. Jangan cuma ngikut karena rame tapi aslinya gak cocok sama elu, dan elu gak sadar kalo lu jadi turis.

Yang penting sadar tempat dan sadar diri. Ngapain cara kesenangan yang bikin lu gak have fun? Maybe instead of just consuming, try making something new, I guess?

Intinya jangan dzalimin atau ganggu orang, walau orang itu berbeda pandangan sama elu. Lu gak cuma buang-buang waktu mereka, tapi juga buang-buang waktu diri lu sendiri. Jadi rugi, ‘kan?

28 Juli 2025 12:43

I mean, yeah, what if yang teriak turis itu juga turis anyway? Why wouldn’t you give a shit to something that bothers you while you can just ignore it or just find something else that suits you better? Jadi dewasa dikit lah.

25 Juli 2025 09:55

CW: crashout, emak-emak fb pro, slop, enshittification. From my comment here.

For someone who’s asking, the op is someone who usually post random stuff on public group to gain engagement on their account because they are on professional mode and turned on their monetisation.

This kind of person are starting to shows lately on public groups, previously they are only post on their own profile, with normal posts or reel videos.

The sign of them are usually using the group title on the caption, doesn’t seems like having interest or relation to that topic, moms in their 30s to 40s. I have seen the evidence on the other group that the posts are still related to the group, even tho it was not following the recent trends, outdated and straightforward a repost.

While on this group, this is the first time I found someone post out of topic, not even related to the group.

Whether they are using bots or manually post it themselves, we don’t know. At least, please, don’t pay them an engagement.

It’s a trash, it’s a slop, no personality, just come here for money.

To Mrs. Dian, get the hell out of here, if you can read this tho.

22 Juli 2025 09:20

I will always despise any microcelebs out there, tapi kalo pos publik yang emang ditujukan layaknya PSA dan emang dibuat pake hati dan bukan buat nyari clout malah disamain kayak microceleb, gue ya gak setuju juga. Harusnya bisa ngerasa dong mana yang microceleb mana yang bukan. Kalo emang banyak engagement berarti emang pesannya tersampaikan, bukan cuma emang punya follower buta aja.

20 Juli 2025 06:45

Iya sih PO di Arknek itu freely available to obtain jadi beli skin gak perlu keluar duit beneran, cuma skin yang lagi dijual di shop kadang bisa sampe 120 lebih karena setiap rilis seri baru bisa ada 4 skin at least dan belum tentu kebeli semua wkwkwkwkwk. It’s fine to me, karena gue juga tau oshi tiap orang beda-beda, ‘kan. Dan ngasih banyak opsi justru bisa near-equally ngayomin setiap orang. Dan gak ada kewajiban buat beli semua skin dalam satu seri. Yang wajib mah sholat.

16 Juli 2025 20:34

Kalo masalah UMPD gak bisa dibokepin atau gimana itu mungkin bukan expertise gue. Tapi bukan berarti being sexualized = bad. Yang mau gue bilang itu soal balancing both things. Having good development and yet can gain traction by appearance alone is still a goal to achieve.

Ngutip dari oomf, jangan ngotak-ngotakin game, game china sama korea hypersexualized lah, game jepang dibikin semateng mungkin lah, soalnya nyatanya setiap negara juga bisa melakukan hal yang lain selain stereotip di atas.

Ambil contoh satu aja (walau bukan game gacha in recent years), Touhou. ZUN desain kayak gitu, bokepnya gimana? Beuh, pake nanya. Tapi ini jelas gak masuk ke dalam variabel yang kita bahas.

Nah, ini soal personal experience. Gue game (atau the franchise as a whole) yang emang gak bisa buat bahan gooning buat gue cuma Monogatari, Milimas sama Bandori. Ada yang lain mungkin, tapi gue lupa.

Terutama Bandori sih ya, gue terlalu attached apalagi pas Mujica tayang kemaren, gue sampe kagak ngocok blas berminggu-minggu cuma gegara gila tiap hari Kamis sampai Kamis selanjutnya. Sadar gak sadar, gue gak ngocok blas. Edan. This shit is so peak, I can’t even goon to it. Dan ya berlaku buat Bandori keseluruhan juga sih.

And the other side of things, gue sama Arknek aja, yang by character design bisa balance things out sampe sekarang pun ya gue cenderung ke sangenya. I went crazy for years, dude. Lu liat aja di AKID yang posting R16 sama R18 paling banyak siapa? Gue, kayaknya sih awkwkwkw.

In the end, balance is the best. Gue cuma kalo ada game yang imejnya emang buat gooner jadi kayak males aja. Gue sebut merk ya. Buat ZZZ, gue emang belum main gamenya jauh, tutor aja belom kelar, tapi imej dia di mata gue emang sexualized semua. It’s just porn, porn, porn, and porn. Bukannya gamenya jelek. I just wanna ask how the fuck this thing could be happened at the first place.

Ujung-ujungnya apa? Bener, gue login Arknek lagi.

16 Juli 2025 15:45

Buat kedua temen gue, anjing kontol lu pada. Ga pernah berhenti nyenggol. Gue tau lu pada bercanda, cuma gue yang liatin doang eneg bangsat. Tribalism is a bitch.

Lucunya gue udah experienced tribalism dari fans vtuber yang holo-sentris tahun-tahun kemaren, who would have thought.

Yang bahkan gue udah nulis soal ini tahun kemaren di blog utama gue.

15 Juli 2025 22:31

I might ngablu at this point karena gue gak main UMPD dan bahkan gak jadi secondary, but here’s some quick thoughts.

Oke, gue udah tahu soal larangan pembuatan materi bermuatan dewasa dari karakter yang ada di UMPD karena nama-nama kuda tersebut emang dari kuda beneran, intinya “no”. Dan beberapa kali terakhir lihat soal bagaimana interaksi Mayano Top Gun sama trainer dibuat sedemikian rupa sehingga implikasinya kayak “kalo gak boleh dibokepin, kenapa dialognya kayak gini” atau kira-kira gitu.

Here, listen. Ya, gue tau pasti ada yang udah paham soal ini. Tapi rasa sayang dan afeksi itu gak harus sexually kok. Mau romantic beneran suka atau platonic yang adoring itu juga bisa gak pake dorongan seksual. Dan kalo pun ada dorongan pun bukannya harus. Possible, but not always be like that.

15 Juli 2025 17:30

Buset dah, gue aslinya udah males buat bahas ginian. Tapi ini gue ketrigger sama hal yang bukan bagian dari inti masalah.

Sure, gue soal vtuber lagi absen mostly. Kamioshi gue sendiri aja lagi jarang gue pantengin. So, buat Niji sama Kamit ya gue seadanya dan semampunya mantengin dari jauh lewat postingan temen. Ini juga termasuk masalah yang ada di NijiEN yang gue sendiri gak tau rincinya gimana, but alas, gue juga bodo amat karena bukan urusan penting bagi gue.

Ya, sih, soal Aster yang katanya ngapain gitu… Dan gue bilang ngapain ya karena gue gak tau apa-apa, men. Terus yada-yada, hari ini PHK. Okay, sounds great? Wrong.

Kenapa gue jadi content warning personal trauma di sini adalah karena sempet liat reply-nya Legal Mindset. Bukan soal omongannya, TAPI DIANYA SENDIRI yang bikin gue muak. Dia yang ceng-cengin pas beberapa waktu yang lalu masih anget soal prahara di NijiEN, di samping youtuber lainnya yang kerjaannya sama aja.

Gue masih benci sama dia dan sama yang dia omongin selama ini soal Niji. It’s not like I defend Niji because I know they sometimes flopped. It’s because Legal Mindset using such condition for his content. Ya, gue sadar dia emang content creator juga walau emang punya expertise di bidang hukum. That’s what I hate about him.

In the end, I might be sounds exaggerated about this situation. Soalnya ini cuma bermula dari pos temen yang bahas soal ini. Dia juga ngikutin vtuber, and obviously he knows the shit of this shitty company doo-dads. Following the timeline.

I hope I don’t make a mistake by saying this, or saying anything later on. Gue tetep orang yang punya rasa gak enak buat unfriend atau blokir duluan, apalagi yang purposefully gue diajak atau ngajak temenan. Baru juga kenal padahal.

But still, gedek ya gedek. Not gonna lie.

13 Juli 2025 00:05

Menurut gue gapapa semacem organisasi dari negeri kita punya aktivitas atau cabang di negeri lain. Bawa budaya keluar karena kebetulan kita juga tinggal di sana dalam jangka waktu yang lama juga oke aja, because that’s how thing works in the past by our ancestors.

Yang jadi masalah buat orang-orang PSHT di Jepang adalah mereka semaunya sendiri, pake ruang publik seenaknya sendiri, gak ada rasa hormat sama orang yang punya rumah, benar-benar KY sama orang lain.

Kenapa seni beladiri yang juga seharusnya melatih sikap dalam diri agar lebih baik dan berwibawa justru membuat diri menjadi sebaliknya? Kenapa bukannya apabila kena tegur tidak mencoba untuk introspeksi diri dulu?

To put it bluntly, kenapa haus banget sama validasi? Kenapa haus banget buat disanjung? Tapi kenapa juga harus dalam bentuk kolektif? Kenapa harus berada di bawah kelompok untuk “eksis”? Dan kenapa juga harus di tempat umum, di negeri orang lagi? Kenapa harus out of fucking nowhere doing moves for no fucking reason but likes and comments? Dan kenapa perlu membalas dengan sindiran di interweb tanpa adanya aksi nyata yang beneran memiliki pengaruh?

Di paragraf ini, gue udah kehabisan kata-kata. Gue lanjutin kapan-kapan kalo inget.

12 Juli 2025 12:56

Kalo misal bapak gak setuju dengan fatwa haram atad horeg, saya ada saran buat bapak. Bapak bisa murtad sekalian biar gak ada beban pikiran bahwa yang bapak lakukan haram atau tidak. Bapak tahu kan orang non-muslim bisa melakukan yang diharamkan dalam Islam karena mereka bukan muslim, pak. Atau bapak bisa menjadi seorang munafik aja, terus buka usaha horeg bapak tanpa peduli sama fatwa. Toh, ada atau tidak adanya horeg di tempat bapak pun Indonesia gak maju-maju karena pejabatnya “boleh” korupsi, kayak yang tempo hari disampaikan oleh peminat horeg yang lain. Munafik juga itu, pak.

10 Juli 2025 19:37

Seni generatif. Jikalau memang mudah dan semuanya bisa membuatnya, kenapa harus aku nikmati? Ya, semua orang bisa membuatnya, tetapi apa alasan aku harus menikmati yang kamu bikin dengan model generatif itu? Bahkan dengan penggunaan kamera dan penyunting video sederhana sudah bisa dikatakan usaha, kenapa buat bikin video untuk diunggah ke media sosial harus capek-capek pakai AI yang ujungnya jadi slop yang secara teknis adalah sampah, Mas Gibran Rakabuming?

And then there’s the art thing

I glimpsed someone on Twitter a few days ago, also scoffing at the idea that anyone would decide not to use the Whatever machine. I can’t remember exactly what they said, but it was something like: “I created a whole album, complete with album art, in 3.5 hours. Why wouldn’t I use the make it easier machine?”

This is kind of darkly fascinating to me, because it gives rise to such an obvious question: if anyone can do that, then why listen to your music? It takes a significant chunk of 3.5 hours just to listen to an album, so how much manual work was even done here? Apparently I can just go generate an endless stream of stuff of the same quality! Why would I want your particular brand of Whatever?

Nobody seems to appreciate that if you can make a computer do something entirely on its own, then that becomes the baseline.

There is a lot that can be said about image generation (little of it polite), but I’m running out of steam a little here. I’d intended to comment on the ongoing efforts to make better and better photo-quality image generation, but I can’t think of much to say beyond: why the fuck would you work on that? We don’t have enough trouble with, say, the conservative “news” sphere inventing its own alternate reality that millions of people buy into, simply by lying — now we have to give them a machine tailor-made for creating fake photos and videos too? Why does this need to exist? Why is this in my phone’s fucking camera app? Can’t these people go live on an airgapped island somewhere and work on their new horrifying fraud machine by themselves?

Ya, ini masih dengan artikel yang sama dengan yang aku bagikan semalam

9 Juli 2025 23:42

Lemme drop some references to spot if some text online is written by AI or not, because recently there is a Facebook fanpage sharing info about racehorses that’s too obvious that the admins are using LLM model to write the caption.

I Can Spot AI Writing Instantly — Here’s How You Can Too by Evan Edinger

The rise of Whatever by fuzzy notepad
This one is not really about AI writings, but you can get the glimpse about what LLM doing when “helping” user to code, and the other stuff

Everything around LLMs is still magical and wishful thinking by A Place Where Even Mammoths Fly

Why A.I. Struggles with Negative Words by Otherwords
This is just a bonus, but you will understand why LLM model is unable to understand what is a “no”

For myself personally, I have been experimenting with GPT 4o-mini model for help me troubleshooting on coding and help me setting up stuff on my Linux machines, it sucks, totally. What it did is just bunch of hallucinated answer, giving non-existent repository on GitHub, always keep the positive vibe even though as a newbie I know it’s not even possible. Dude, just spit the fact without sugarcoat it!

9 Juli 2025 21:47

About what happened yesterday, we should know that it is okay for having unhinged thoughts sometimes because we are human. But it is also important to have control over your mind and keep it yourself after you consider it is not okay if you said it publicly. Also try to not give a shit at the first place, please.

9 Juli 2025 21:30

Melanjutkan dari pos gue sebelumnya, gue bakal jelasin reformasi yang akan gue lakukan dalam kebiasaan gue dalam main mobage sehari-hari ke depannya.

Gue udah yakin bakalan drop apapun selain Arknights, Garupa sama HSR.

Arknights cukup jelas kenapa gue masih pengen lanjut daily walau event udah gak kesentuh. Gue masih mau tetep relatable sama apa yang baru aja sederhananya. Tetapi gue bakalan drop buat ArkEN dan ArkTW at some point, gue masih ragu buat uninstall. Kita tunggu tanggal mainnya aja, maksudnya tanggal uninstall-nya. Yang CN jelas gue gak begitu masalah sejak bisa stack 6x sekali run.

Untuk Garupa, gue bakalan drop ENdori sama JPdori. Ya, beneran drop JPdori. Meanwhile gue udah uninstall ENdori barusan karena udah nyampe level 80, gue masih nunggu JPdori sampe level 100 buat gue uninstall yang dimana sekarang gue masih level 90. Dan CNdori masih gue keep sampai event collab sama Arknights berlangsung di kemudian hari yang masih belum ada kabarnya.

Kemudian untuk HSR, kira-kira sama kayak Arknights. Lagipula karena cuma satu server, jadi bebannya gak banyak sebenarnya. Mentok paling lama main kalo sekali run SU doang yang bisa sampai 30 menit. Tapi buat daily yang lain, gak ada masalah.

Buat Wuwa dan UmaEN, gue mungkin bakal kasih pengecualian. Karena gue ada rencana buat main Wuwa buat bikin artikel soal performanya di desktop gue dan buat UmaEN sendiri gue emang ada interest buat main dan ngikutin, bahkan udah ada sejak masih di JP dulu. Ya, lihat aja nanti. Kalo emang udah waktunya drop, gue bakal drop nantinya anyway.

Gak, gak menerima saran dan ajakan buat main game lainnya lagi. No. Udah lelah walau game JP bisa santai sehari-harinya atau game CN bisa santai di kemudian hari. No.

8 Juli 2025 22:19

Untuk tetap bermain itu adalah pilihan yang sulit. Emang yakin kalau masih ada waktu? Gue gak blaming game live service is bad, gue bahkan juga udah bikin artikel soal itu di blog utama gue kalo game live service itu fine-fine aja. Tapi kapan game live service akan berada di ambang batas not fine at all?

Kalo dipikir ya, gue yang aktif mostly Arknights 4 server, Garupa 3 server, HSR, dan itu masih bisa kehandle semua. Walau emang makan waktu, buat daily pun cuma makan maksimal 20-30 menit doang. Dan di sini by means everything is auto to deplete the stamina system.

Sekarang soal Mirishita. Gue udah gak actively main, gak ngikut ceritanya, temen juga udah gak pada fokus ke sana, secara umum udah less hyped aja sih. Walau emang sekarang niat tiering cuma buat dapetin card anniv tiap member, tetep aja terasa berat dibandingkan game lain yang gue mainin karena walau iya itungannya daily, karena ini event spesifik, jadi workloadnya lebih gede, waktunya lebih banyak butuhnya. Kan gak lucu kalo Mirishita butuh waktu 1 jam sendiri. Mirishita ini juga somehow bikin fokus gampang pecah, jadi gak cocok kalo tak sambi yang lain.

Akhirnya gue milih nyerah karena gue milih buat fokus ke sempro gue dulu yang akan diadakan lusa ini. I had enough. Gue ketinggalan event Arknek atau Garupa gak ada rasa rugi, tapi kalo anniv Mirishita sehari aja keskip, udah males gue.

8 Juli 2025 15:13

Lowkey pengen monitor 4:3 atau 16:10 biar lebih lega ke atas, terlalu lebar juga somehow tetep sumpek

7 Juli 2025 16:49

Barusan dapet panggilan telepon dari scammer, ngakunya dari Polda Jogja, yang emang kebetulan gue orang Sleman.

Dia bisa tau nama gue dengan benar (gue gak kaget), dan dia bilang kalo identitas gue somehow dipake buat tindakan kriminal atau ilegal kemudian minta gue ke sana sekarang juga. Kalo gak, bakal dijemput dalam waktu satu jam ke depan.

I’m not that fucking stupid, dawg. You can’t fool me like that. Manggil orang atas dasar hukum tetep ada hitam di atas putih walau sekarang lu bisa chat orang lewat SNS yang dia punya, apalagi cuma telepon.

Ailah, dongo dipiara.

7 Juli 2025 08:01

Kejadian semalam mungkin menjadi tamparan halus kepada gue sendiri.

Gigi gue yang geraham belakang kiri bawah sakit lagi setelah gue makan bakpao untuk makan malam, yang bukan contoh yang bagus. Bukan masalah waktu, tapi emang gak sengaja terlupa. Gigiku yang itu, dua dari belakang ada yang terkikis, lumayan gede. Jadi sekarang giginya cukup sensitif sama apapun karena I assume emang udah kebuka.

Nah, itu gigi sakit lagi. Gue nahan sakit sambil beresin warung sama ngurus administrasi. Rupanya emang belum kelar-kelar, gue mutusin buat berbaring dan bablas tidur. Gue gak jadi begadang.

Ya, bagus sebenernya.

It was painful as hell, baru sekali ini gue sakit gigi di gigi yang itu selama itu. Biasanya ngilu bentar terus ilang. Ini udah gue kasih salonpas aja masih ngilu lama bener.

And well, my plan to unlock the 25th hour of the day was failed. Gue rencananya mau garap beberapa hal lain yang belum sempet kelar dan harusnya gue selesaikan hari ini. But turns out gigi gue yang sakit ini mencegah gue buat lanjutin kegiatan di malam itu.

Well, kalo misal gue bablas semalem, mungkin gue bakalan ngantukan pas di kampus sekarang. Kan gak enak sama dosen yang gue temuin nanti.

6 Juli 2025 06:46

Dari pos Facebook ini yang barusan lewat.

Kita di era dimana prefer buat nuduh sebuah pihak pake AI generatif daripada nuduh kalo murni human error atau dikejar deadline. Emang gak ada bukti mana yang bener, tapi nuduh tanpa dasar yang kuat juga sama-sama gak bener lmao.

Probably hot take: orang yang overproud sama AI dan orang yang totalitas gak mau sama AI sama-sama gak paham dengan AI itu sendiri.

Baru aja baca tadi malem, dari Everything around LLMs is still magical and wishful thinking · A Place Where Even Mammoths Fly.

Another person chimed in with an astute observation:

The huge gap between the people who claim “It helps me some/most of the time” and the other people who claim “I’ve tried everything and it’s all bad” is really interesting to me.

The answer to this is easy, simple, and rather obvious. However, in an industry increasingly overwhelmed by magical, wishful thinking, I haven’t seen many people address this.

Mungkin yang garap overwork atau kekejar deadline jadi gak sempet QC dulu buat dipublikasikan, dan kalo gak sempet diganti, ya gak tau deh ya. Gue gak pake “pasti” karena gue gak nuduh.

Defending hoyo? Bitch please, you know who the fuck am i.

6 Juli 2025 06:23

Gue inget dulu ada oomf yang cynical sama Hoyo bikin ulti di HSR bisa dibikin less flashy karena ada yang laporan kalo ada yang gak kuat. Dan dia specifically calling out westerner yang sambat dan manja jadi minta digituin.

Not a fun fact, epilepsy is a thing. Mereka bisa kambuh kalo liat sesuatu yang flashy apalagi berkedip dalam jangka waktu yang panjang. Dan epilepsi bukan westerner only thing, siapapun bisa kena epilepsi.

Gue tau lu cukup gak suka sama western fanbase, tapi kalo sampe sama ratain dampak pada kesehatan dengan kelakuan buruk satu fanbase, itu gak masuk akal, asli.

Sure, gatekeep karena kelakuan itu oke lah, tapi gatekeep cuma karena accessibility buruk itu beneran gak menghargai orang lain sebagai sesama manusia sih. Also the fact that updatenya opsional dan gak dipaksakan sehingga merubah gamenya sama sekali itu harusnya lu gak perlu cynical sama hal gituan lah.

But anyway, kejadian ini udah terjadi hampir dua tahun yang lalu jaman banner Seele, udah lama. Don’t think much about it.

5 Juli 2025 23:05

Kepikiran suatu hal ketika ngelihat tumpukan CD dan DVD yang masih gue simpen di lemari. BD-R kosong itu hampir gak “ada”.

Saat gue nulis ini sebagai quick thoughts, gue belum ngecek di marketplace ada apa kagak, tapi beneran hampir gak ada yang jualan BD-R kosong. Walau kapasitasnya secara teknis gede, kenapa gak ada yang jualan BD-R kosong?

Tentu salah satunya pas BD nongol di pasar film dalam bentuk fisik, HDD udah lumrah di pasaran dan jelas dari sini tentu kita milih HDD karena bisa read and write sampai kapanpun. Tetapi dari bentuknya sendiri sebenarnya ada ketertarikan yang cukup spesifik gue rasa.

Ini secara gak langsung ngemention pos blog yang gue bikin beberapa waktu yang lalu soal Sony berhenti produksi Bluray sendiri sih.

Begini, walau kita bisa dapat flash disk atau hard disk dengan kapasitas gede dengan harga yang murah, pernah gak sih ngerasa percuma kalo buat nyimpen backup untuk file yang dibuang sayang tapi tetep aja jarang kepake dalam waktu dekat atau skenario mirip kayak gitu?

Nah, mirip dengan cerita gue yang lain saat pake laptop lama gue dimana gue saat dulu masih SMA, yang dimana pendapatan gue cuma dari uang saku yang terbatas, gue milih buat beli CD-R dan DVD-R kosong di fotokopian deket rumah buat backup file-file yang sekiranya gak sering gue butuhin tapi masih ingin gue simpen kayak master installer aplikasi dan game.

Dan buat BD sendiri kan juga lumayan tuh kalo aja yang BD-R dijual dan bisa jadi sarana backup yang mantep karena kapasitasnya gede. Tapi ya sayangnya BD difokuskan buat entertainment seperti film dan game, dan kayaknya Bluray drive itu mahal juga, ‘kan.

It’s for the greater good anyway, harga HDD jadi lebih murah juga sekarang

5 Juli 2025 22:20

Satu hal yang pernah tak lakukan dalam bereksperimen mengelola personal website ala-ala indieweb itu adalah menampilkan fanart-fanart yang gue suka di homepage websitenya. Bahkan yang termasuk borderline NSFW.

Ya, karena yang punya website kan gue sendiri. Secara teknis gak ada sistem moderasi yang ngelarang gue buat melakukan hal seperti ini. Dan inilah kelebihan dari jiwa indieweb itu sendiri. Menjadi diri sendiri itu lebih terasa manfaatnya daripada diatur mulu sama orang lain.

Nah, gue emang gak ada bukti yang bisa diakses secara publik sekarang karena situs Neocities gue yang gue bikin tahun kemaren udah gue bersihin dan sempet pindah ke Cloudflare Pages yang akhirnya dibersihin juga. Tapi gue bakal coba jelasin gimana mekanismenya.

Gue manfaatin embed dari tweetnya di Twitter pakai tool bawaan Twitter, terus gue tampilin kayak widget di samping kanan homepage barengan sama widget yang lain. Tapi gue gak cuma nampilin satu fanart doang, tapi banyak dan bakalan random tiap akses ke situ. Dan di sini gue manfaatin JavaScript buat bikin dia ambil dari halaman lainnya yang isinya kumpulan div yang jadi kontainer embed tadi. Jadi kalo ada fanart baru yang gue suka, gue tambahin di halaman yang isinya kumpulan div tadi. Baru nanti skrip yang buat nampilin bakal nampilin satu div aja secara acak.

Dan buat tweet yang ditandai NSFW sama Twitter, gue pake akal-akalan masukin gambarnya langsung plus sama link tweetnya, jadi gak perlu lewat tool bawaannya itu tadi. Jelek emang, tapi seenggaknya gak berat banget buat ngeload embednya dari Twitter dulu.

Dan ya, gue bisa share fanart yang gue suka, termasuk yang borderline NSFW tadi di tempat gue sendiri, dan gak kena begal sama moderasi, soalnya kan di website gue sendiri. Enaknya di situ, walau emang harus kerja ekstra daripada sekadar buka camera roll terus upload di Facebook.

4 Juli 2025 18:32

Lukewarm take: If everything you do with your computer nowadays is inside your browser, you can use Linux. Playing games is another story, but if you are just an average Joe and all you do is just using web apps on browser, just use Linux. If you still can’t leave Windows, try it on a secondary device if you have one. There is always a possibility for newcomers to migrate, ask a trusted friend for help, just ignore those toxic people if you come across online, they aren’t worth your time.

4 Juli 2025 15:52

Pos ini merupakan personal take dari posnya Fahmi Hasan Nugroho di Facebook. Salinannya ada di sini.

Memang kemampuan kognitif setiap manusia itu berbeda, tetapi ngelihat komen kayak gitu beneran miris. Yang kedua tentu udah dijelaskan di pos aslinya. Yang pertama,… Sedih. Siapa yang menghalalkan korupsi? Siapa yang menghalalkan ngambil uang rakyat? Apa hubungannya sama pak kyai juga? Gak ada, ‘kan? Dan jujur aja, ini bicara dari kaca mata seorang manusia, hobi apapun itu boleh asal gak dzalimin orang lain, gak ganggu orang lain. Udah, simpel. Gak perlu punya pendidikan tinggi atau jabatan yang keren buat memahami hal mendasar seperti ini. Beken, silakan, tapi jangan kemakan ego diri sendiri.

3 Juli 2025 19:03

Beberapa waktu yang lalu, Theo (t3.gg) bikin yang namanya Unduck buat menanggulangi redirect bang DuckDuckGo yang lemot karena berjalan di server-side. Karena Unduck berjalan di client-side dan source code-nya tersedia, aku kepikiran untuk melakukan sesuatu.

Awal pake bang di DuckDuckGo itu sempet tau kalo Danbooru ada di situ, cuma ketika dipakai, redirect yang ada pasti menambahkan tag rating:safe dimana menyaring gambar dengan tag questionable dan explicit. Ketika dicek, DuckDuckGo hanya memperbolehkan bang yang mengarah ke situs atau konten yang SFW saja.

Nah, baru pas nyoba Unduck punyanya Theo, secara bawaan kalau mencari tanpa bang, malah justru di-redirect ke Google daripada DuckDuckGo sendiri. Tentu saja kebanyakan orang pakenya Google dan mungkin Theo sendiri juga masih pake. Tetapi aku maunya pake DuckDuckGo secara bawaan.

Aku fork repositorinya dulu di GitHub. Di folder /src ada bang.ts dan main.ts.

Untuk mengganti search engine bawaan yang akan dipake, aku ganti Google ke DuckDuckGo di bagian const LS_DEFAULT_BANG = localStorage.getItem("default-bang") ?? "duckduckgo"; di main.ts.

Kemudian di bang.ts, aku mencari entri Danbooru dan menghapus tag rating:safe dari setiap entrinya seperti !danbooru dan !dbr. Nah, di sini aku juga tidak lupa menambahkan entri untuk nhentai dengan bang !nhen yang akan mengarahkan otomatis ke nhentai, karena kenapa tidak?

Memang niatnya untuk membebaskan diriku dalam menggunakan search engine yang aku gunakan. Dan dengan DuckUfal ini, sejatinya menerapkan fungsi bang dari DuckDuckGo, with extra steps.

3 Juli 2025 08:44

Nonton acara bahasa Inggris yang udah ada takarir bahasa Indonesianya dan masih minta yang ngomong juga harus pake bahasa Indonesia is just straight up lazy, dawg. Gak cuma karena skill issue lu gak bisa bahasa Inggris, pride lu terlanjur ketinggian buat masalah yang aslinya sepele banget.

2 Juli 2025 00:34

Manusia memiliki rasa benci itu normal. But having it constantly for something that’s not even worth the hate, for no plausible reason, for such a long time, even worth that much?

Gue tau lu juga merasa ada yang janggal dari hal yang lu benci. Tetapi apakah rasa bencimu itu memberikan sebuah efek yang nyata? Apakah ada perubahan, sekecil apapun itu, yang terjadi setelah itu?

Apakah rasa bencimu itu kamu lontarkan ke hal yang benar? Atau ke orang yang benar?

30 Juni 2025 18:45

Tutor verif akun fedi buat situs WordPress di wordpress.com

Sebenarnya ini udah dipos beberapa hari yang lalu di blog satunya, tapi akhirnya kepikiran buat pindahin ke sini sekalian

  1. Buka admin panel di (url website)/wp-admin
  2. Dari menu di samping kiri, buka Pages
  3. Buka laman Home atau laman yang menjadi homepage
  4. Buatlah blok HTML khusus bebas di mana saja di halaman, atau ditaruh bawah sendiri
  5. Masukkan <link href="https://(server)/@(username)" rel="me">, sesuaikan dengan username dan server di fedi
  6. Simpan laman
  7. Buka pengaturan profil di servermu
  8. Cari additional information
  9. Isi salah satu kolom dengan URL dari website-mu, misal https://ufal.my.id
  10. Simpan pengaturan
  11. Seharusnya udah terkoneksi, tapi bisa dicek di IndieWebify kalau udah konek apa belum
  12. Masukin URL website, kalo oke, tulisannya works perfectly

29 Juni 2025 01:52

Harusnya gue segera tidur karena subuh udah harus siap buat jualan di CFD. Tapi gue masih mikir hal-hal terkait diskursus seputar mobage yang masih terus-menerus diperbincangkan tanpa henti. Perbandingan di antara judul-judul yang sudah ada tidak pernah usai, baik secara positif atau negatif. Tentu subyek yang paling sering diomongin adalah Genshin. Bahkan yang topik utamanya bukan Genshin pun masih kesebut dia.

Jujur, sampai sekarang sebenarnya gue masih ada ketertarikan sama Genshin. Gue masih ada beberapa karakter favorit di sana, gue suka vibe landscape di sana, design-wise juga masih oke karakternya, bahkan buat lore dan ceritanya juga masih pengen tak ikutin dari lama. Masalahnya dimana?

Gue cuma gak suka open world yang terlalu “open”, yang belum lagi karena ini live service, it feels like never ends kecuali end of service yang Genshin jauh dari kata itu. Let’s be honest, Genshin is a success financially.

Let’s be real, gue udah effed up sama game open world yang namanya “dunia nyata” dan gue masih harus berurusan sama game open world yang macem Genshin? Good lord, gue aja sama Arknek yang gak jago pun masih bersyukur bisa farm ditinggal, walau update QoL biar bisa queue terus stack aja nunggu bertahun-tahun. For note, what I said here is based on what I seen myself when I played Genshin three years ago, it might be different today. But no auto farming? I know it beats the purpose of open world.

But dude, suck it!

Masih banyak yang perlu gue bahas, tapi gue tambahin nanti di blog utama yang lebih proper.

16 Desember 2024 17:08

This article are a compilation of my writings about Twitter in the past two months, November and December, regarding the decision to staying on Twitter or not. Also some bonus like some stuff over the Bluesky.

No, I can’t do it now

I have to spit this out of my mouth before I completely forget about it again.

All things about Twitter being sucks is actually goes around the US politics and monetization factors around it.

I personally who use Twitter just for my hobby, especially retro computers and almost all-things weeb stuffs, vtubers, mobages, you name it, is not in any part of it. The two above and my hobbies isn’t on the same page at all.

That’s why leaving Twitter for good is not on my vision yet.

I have read about what Elon do and think when he manages Twitter now. It’s disgusting obviously. Doing it for the sake’s of his ego.

And when I looked back to what I do on Twitter, it supposed to be not obstructed at all. I just wanna keep up with my oshi, and that’s what that is. I just want to see fanarts and cool stuff about what I’m following to.

US politics maybe not directly distrub me, because I could easily find it on fediverse. I don’t particularly care about it. But monetization issue is keeping me not so well.

People will say anything, whether it’s a real thing or just a bogus, even littering timeline with bots. Whatever it takes, just for engagement, and later for revenue if they subscribe to Blue.

Elon killing social interaction with money and ego.

This same goes for Facebook and TikTok, almost the same way on monetization.

Although what’s definitely a good thing I found on fediverse is more new friends. The things I can’t get on Twitter all these years because mostly are just my Facebook friends anyway.

In the end I still think I can’t leave Twitter for now.

Why American conservatives are like that?

I understand what is your political ideology, very understand about that. And here I am also still leaning towards conservative side of thing because my religion and culture. But am I stupid like you guys? No?

Okay, hear me out. The thing about you get banned from Bluesky by saying that is because you are on their server, their PDS. But do you know that Bluesky is (currently) semi-decentralized now? You may say “Bluesky is bad because can’t accepting the fact”, that’s just straight up ignoring the main thing, you actually can just ignore the platform at all and just make use of the protocol instead to do your stuff, I guess?

You guys the conservatives should learn that you can host your own PDS to be more free. I’m not supporting them at any cost, but this is just straight up stupid for not understanding how Bluesky and AT Protocol works. It’s not Bluesky’s fault for you to get banned, it’s your fault that you can’t maximize the potential of the protocol. Was this like just hardforking Mastodon to create Truth Social, most likely. These guys can make their echo chamber.

Again, not supporting but there a way to do it. This is me logically saying. Don’t be a stupid person.

Twitter and our hobby

I actually need more testimonies from people who are interested into any Japanese-related hobbies for the reason why they stop or keep using Twitter despite we know that the most of us know that the platform is affected by Elon’s vision and control.

The biggest part of it is obviously the political side of things on the US, but pretty much majority of us doesn’t really want to know what was going on there, especially me and some of us who mainly using Twitter for things related to our hobby.

If it’s quite enough, I’ll probably make a report on what should we do right now and later on.

Moderation practice at Bluesky

First and foremost, I’m an Indonesian so I’m not tied to left or right wing or whatever in USpol.

But I genuinely asking, if we gonna punish by banning “those” kind of bad accounts instead just cutting the ties and let them be like on the fediverse, what’s makes us different to Twitter then?

Since the idea of “looking for available public PDS” isn’t a thing in here, not like on fedi where we could choose whatever server we want, most of people still standing in the same big main boat, bsky.social.

But knowing that accounts on Bsky is much portable than an account on a Mastodon server, it’s more decentralized than it. But again, most of us doesn’t understand and want to do that, yet the friendly tool to do the thing is not available yet.

Despite being in Bluesky for a year and 5 months, I still enjoy fedi more. Prolly because it’s not too noisy. I’m an introvert too even in online space. I already got too much in my head so reading quieter feed feels much better for me.